UI - Tesis (Membership) :: Kembali

UI - Tesis (Membership) :: Kembali

Pengaruh tingkat bunga, kurs mata uang, dan jangka waktu dalam pilihan investasi dan kewajiban dalam rupiah dan eudollar

Nomor Panggil T-Pdf
Pengarang
Pengarang lain/Kontributor
Subjek
Penerbitan [Place of publication not identified]: [Publisher not identified], 1997
Program Studi
 Abstrak
RINGKASAN EKSEKUTIF Seorang investor pasti menginginkan return yang setinggi-tingginya atas investasi yang dilakukan. Seorang penjual pasti menginginkan keuntungan yang setinggi-tingginya. Seorang pembeli juga menginginkan cara membeli yang paling menguntungkan. Keinginan-keinginan dari investor, penjual mau pun pembeli tersebut akan mengantarkan kepada pilihan. Investor mungkin akan memilih salah satu dari belJerapa instrumen investasi yang ada. Instrumen investasi misalnya adalah deposito berjangka, reksa dana, saham dan properti. Sementara itu P.enjual pasti menginginkan pembayaran secara kas dibandingkan kredit (berpiutang), karena dengan begitu dia akan bisa menggunakan ka~ yang diperolehnya untuk mengambil kesempatan lain yang akan menambah keuntungannya. Sebaliknya pembeli mungkin aktan memilih cara pembayaran kredit (berhutang),-karena dia akan bisa menggunakan ~erse iaan kasnya untuk hal-hal yang akan menghasilkan tambahan penda atan. Dalam perkeml5angannya kemudian, ternyata pilihan-pilihan menjadi tidak sesederhana ilustrasi di atas, apalagi kalau transaksi yang dilakukan telah melewati batas-batas negara (internasional), di mana alat tukar berupa mata uang masing-masing negara akan mulai terlibat. Akibatnya, pilihan-pilihan menjadi semakin kompleks. Investor tidak lagi memiliki pilihan instrumeri investasi Rupiah, tetapi bertambah dengan instrumen investasi berdenominasi valas (foreign currency). Dernikian pula halnya dengan pembeli dan penjual, di mana mereka memiliki pilihan atas denominasi mata uang bagi hutang dan piutangnya. Namun begitu alat transaksi utama tetaplah Rupiah (home currency). Adanya home currency dan foreign currency akan menimbulkan transaksi antar keduanya yang dinyatakan dalam exchange rate (nilai tukar atau kurs). Kurs Rupiah terhadap beberapa mata uang asing (valas) ditentukan oleh banyak faktor yang berhubungan dengan kondisi makro masing-masing negara. Akibatnya kurs bisa naik atau melemah dan bisa juga turun atau menguat. Melihat kepada kenyataan itu, maka pada saat investor, penjual dan pembeli melakukan transaksi internasional, berarti posisi mereka terbuka terhadap resiko perubahan kurs tersebut apalagi kaiau perubahan kursnya mendadak (devaluasi), yang akan berakibat kepada kerugian yang tidak sedikit. Oleh karena itu, investor, penjual dan pembeli dituntut untuk tidak hanya bertindak secara konvensional seperti yang diuraikan di atas, namun dituntut pula untuk mengikuti perubahan kurs valuta asing dan berusaha untuk selalu meminimasi resiko yang mungkin timbul. Rupiah terus mengalami depresiasi terhadap USD dengan depreciation rate yang berubah-ubah setiap tahun. Karena depresiasi yang berubah-ubah tersebut, seorang investor, penjual mau pun pembeli hams mampu memprediksi kemungkinan-kemungkinan lonjakan kurs pada saat-saat tertentu. Seorang investor mungkin tidak lagi menempatkan seluruh dananya dalam Rupiah, tetapi mulai melakukan portofolio dengan mengalokasikan sebagai dalam investasi USD. Seorang penjual mungkin hams memakai USD untuk menentukan harga produknya. Sedangkan seorang pembeli mungkin akan melakukan kontrak forward agar terhindar dari kewajiban USD yang melonjak di masa yang akan datang. Serangkaian tindakan tersebut di atas tentunya tidak dapat dilakukan tanpa informasi yang tepat dan lengkap, baik melalui informasi yang dicari sendiri atau informasi yang diperoleh dari lembaga-lembaga yang kompeten di bidang i, misalnya bank. Dengan informasi yang diperoleh tersebut, investor, penjual dan pembeli tersebut akan dapat melakukan analisa dan bahkan melakukan prediksi atas kemungkinan-kemungkinan yang akan teijadi di masa datang. Metode analisa yang dilakukan bisa bermacam-macam, namun salah satu yang paling tepat adalah dengan metode empiris, artinya melihat kepada pengalaman yang telah terjadi selama kurun waktu tertentu, sehingga ditemukan pola-pola perkembangan hubungan di antara variabel-variabel yang ada. Dari yang telah disinggung di atas, maka variabel-variabel tersebut adalah kurs dan tingkat bunga. Dalam pengamatan atas data dan informasi yang ada mungkin akan dapat ditemukan variabel yang lain: Kaitan-kaitan yang timbul di antara variabel-variabel tersebut diharapkan akan memberikan penjelasan mengenai pola-pola yang terjadi, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan yang berguna bagi keputusan suatu pilihan. Investor, penjual dan pembeli adalah sebagian kecil dari aktor-aktor yang bermain dalam kekompleksan transaksi-transaksi yang melibatkan tingkat bunga dan - kurs mi. Dalam perkembangannya muncul banyak produk derivatif dari tingkat bunga dan kurs mi, yang tujuannya sebenarnya adalah untuk menghindari kerugian sebagai akibat pergerakan kurs. Kekompleksan tersebut mungkin belum ditangkap oleh investor, penjual dan pembeli di Indonesia. Oleh karena itu, transaksi yang masih dilakukan oleh sebagian besar dari mereka adalah transaksi yang mungkin telah digolongkan konvensional dalam perkembangan dunia keuangan yang semakin kompleks mi. Transaksi tersebut adalah investasi dalam deposito berjangka dan transaksi forward.
 File Digital: 1
Shelf
 T7378-Soehianto.pdf ::

Akses untuk anggota Perpustakaan Universitas Indonesia, silahkan

 Info Lainnya
Sumber Pengatalogan : LibUI ind rda
Tipe Konten : text (rdaconten)
Tipe Media : computer
Tipe Carrier : online resource
Deskripsi Fisik : xii, 169 pages : illustration ; 30 cm + appendix
Catatan Bibliografi : pages 168-169
Lembaga Pemilik : Universitas Indonesia
Lokasi : Perpustakaan UI, Lantai 3
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
T-Pdf 15-18-389438361 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20471181
RINGKASAN EKSEKUTIF
Seorang investor pasti menginginkan return yang setinggi-tingginya atas
investasi yang dilakukan. Seorang penjual pasti menginginkan keuntungan yang
setinggi-tingginya. Seorang pembeli juga menginginkan cara membeli yang paling
menguntungkan. Keinginan-keinginan dari investor, penjual mau pun pembeli tersebut akan mengantarkan kepada pilihan.

Investor mungkin akan memilih salah satu dari belJerapa instrumen investasi
yang ada. Instrumen investasi misalnya adalah deposito berjangka, reksa dana, saham
dan properti. Sementara itu P.enjual pasti menginginkan pembayaran secara kas
dibandingkan kredit (berpiutang), karena dengan begitu dia akan bisa menggunakan
ka~ yang diperolehnya untuk mengambil kesempatan lain yang akan menambah
keuntungannya. Sebaliknya pembeli mungkin aktan memilih cara pembayaran kredit
(berhutang),-karena dia akan bisa menggunakan ~erse iaan kasnya untuk hal-hal yang
akan menghasilkan tambahan penda atan.

Dalam perkeml5angannya kemudian, ternyata pilihan-pilihan menjadi tidak
sesederhana ilustrasi di atas, apalagi kalau transaksi yang dilakukan telah melewati
batas-batas negara (internasional), di mana alat tukar berupa mata uang masing-masing negara akan mulai terlibat. Akibatnya, pilihan-pilihan menjadi semakin kompleks. Investor tidak lagi memiliki pilihan instrumeri investasi Rupiah, tetapi bertambah dengan instrumen investasi berdenominasi valas (foreign currency). Dernikian pula halnya dengan pembeli dan penjual, di mana mereka memiliki pilihan atas denominasi mata uang bagi hutang dan piutangnya. Namun begitu alat transaksi utama tetaplah Rupiah (home currency).

Adanya home currency dan foreign currency akan menimbulkan transaksi antar
keduanya yang dinyatakan dalam exchange rate (nilai tukar atau kurs). Kurs Rupiah
terhadap beberapa mata uang asing (valas) ditentukan oleh banyak faktor yang
berhubungan dengan kondisi makro masing-masing negara. Akibatnya kurs bisa naik
atau melemah dan bisa juga turun atau menguat.

Melihat kepada kenyataan itu, maka pada saat investor, penjual dan pembeli
melakukan transaksi internasional, berarti posisi mereka terbuka terhadap resiko
perubahan kurs tersebut apalagi kaiau perubahan kursnya mendadak (devaluasi), yang
akan berakibat kepada kerugian yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, investor, penjual dan pembeli dituntut untuk tidak hanya
bertindak secara konvensional seperti yang diuraikan di atas, namun dituntut pula
untuk mengikuti perubahan kurs valuta asing dan berusaha untuk selalu meminimasi
resiko yang mungkin timbul.

Rupiah terus mengalami depresiasi terhadap USD dengan depreciation rate
yang berubah-ubah setiap tahun. Karena depresiasi yang berubah-ubah tersebut,
seorang investor, penjual mau pun pembeli hams mampu memprediksi kemungkinan-kemungkinan lonjakan kurs pada saat-saat tertentu. Seorang investor mungkin tidak
lagi menempatkan seluruh dananya dalam Rupiah, tetapi mulai melakukan portofolio
dengan mengalokasikan sebagai dalam investasi USD. Seorang penjual mungkin hams memakai USD untuk menentukan harga produknya. Sedangkan seorang pembeli mungkin akan melakukan kontrak forward agar terhindar dari kewajiban USD yang melonjak di masa yang akan datang.

Serangkaian tindakan tersebut di atas tentunya tidak dapat dilakukan tanpa
informasi yang tepat dan lengkap, baik melalui informasi yang dicari sendiri atau
informasi yang diperoleh dari lembaga-lembaga yang kompeten di bidang i, misalnya
bank. Dengan informasi yang diperoleh tersebut, investor, penjual dan pembeli tersebut akan dapat melakukan analisa dan bahkan melakukan prediksi atas kemungkinan-kemungkinan yang akan teijadi di masa datang.

Metode analisa yang dilakukan bisa bermacam-macam, namun salah satu yang
paling tepat adalah dengan metode empiris, artinya melihat kepada pengalaman yang
telah terjadi selama kurun waktu tertentu, sehingga ditemukan pola-pola
perkembangan hubungan di antara variabel-variabel yang ada. Dari yang telah
disinggung di atas, maka variabel-variabel tersebut adalah kurs dan tingkat bunga.
Dalam pengamatan atas data dan informasi yang ada mungkin akan dapat ditemukan
variabel yang lain: Kaitan-kaitan yang timbul di antara variabel-variabel tersebut
diharapkan akan memberikan penjelasan mengenai pola-pola yang terjadi, sehingga
dapat diambil suatu kesimpulan yang berguna bagi keputusan suatu pilihan.

Investor, penjual dan pembeli adalah sebagian kecil dari aktor-aktor yang
bermain dalam kekompleksan transaksi-transaksi yang melibatkan tingkat bunga dan
- kurs mi. Dalam perkembangannya muncul banyak produk derivatif dari tingkat bunga dan kurs mi, yang tujuannya sebenarnya adalah untuk menghindari kerugian sebagai akibat pergerakan kurs. Kekompleksan tersebut mungkin belum ditangkap oleh investor, penjual dan pembeli di Indonesia. Oleh karena itu, transaksi yang masih
dilakukan oleh sebagian besar dari mereka adalah transaksi yang mungkin telah
digolongkan konvensional dalam perkembangan dunia keuangan yang semakin
kompleks mi. Transaksi tersebut adalah investasi dalam deposito berjangka dan
transaksi forward.